(Source: aceph, via sidratulmuntaha)

@3 weeks ago with 440 notes

sidratulmuntaha:

forever reblog. sweet~ :’)

@3 weeks ago with 25162 notes
[Flash 9 is required to listen to audio.]

aanmansyur:

dunia yang lengang

sebuah usaha, agar orang-orang lebih banyak bicara dengan mata, pemerintah membuat aturan ketat: setiap orang hanya berhak memakai seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo. di restoran aku menggunakan jari telunjuk memesan mi atau coto makassar. aku secermat mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku di jakarta. dengan bangga aku bilang padanya: aku menggunakan delapan puluh sembilan kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti ia telah menghabiskan semua jatahnya. maka aku pelan-pelan berbisik: aku mencintaimu. sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan gagang telepon di telinga kami dan saling mendengar dengus napas masing-masing.

*

—dikutip dari buku puisi kedua saya, aku hendak pindah rumah

@1 month ago with 5 note and 419 play
sidratulmuntaha:

bismikanahya:

zuleikha:

this is our true motherland.

i wanna go here. so so much

subhanallah. :’) one day inshaAllah.

sidratulmuntaha:

bismikanahya:

zuleikha:

this is our true motherland.

i wanna go here. so so much

subhanallah. :’) one day inshaAllah.

(Source: edrees7)

@1 month ago with 2217 notes

Nostalgia Cinta dan Cerita Hidup

*Catatan dari konser Live Our Inspiration

“Cinta adalah dasar kehidupan” ~ Iwan Fals

FOTO: AANG

MAKASSAR — Aula utama Celebes Convention Center di jalan Metro Tanjung Bunga Makassar sabtu malam akhir pekan lalu bergemuruh. Riuh teriakan membentuk irama senada tepukan tangan. Seribuan orang tak henti bernyanyi selama dua jam lebih. Berjamaah, dikomando legenda musik Indonesia. “Iwan Fals! Iwan Fals!,” sorak mereka pada sang pujaan.

Iwan Fals mengentak Makassar. 15 lagu yang ia bawakan dari panggung membawa penontonnya melambung jauh ke masa lampau. Saat di mana Iwan jadi teman kaum ‘akar rumput’ dengan lagu-lagu kritik sosialnya. “Saya tak suka mengkotak-kotakkan musik. Semua lagu saya tentang kehidupan. Dan cinta adalah dasar semua kehidupan,” ujar pelantun bernama lengkap Virgiawan Listanto.

Di Makassar, Iwan memenuhi undangan konser Smada Party 2012 bertajuk “Live Our Inspiration”. Ini ketiga kalinya ia menginjak kota Anging Mammiri dalam dua tahun terakhir. SMA Negeri 2 Makassar, penyelenggara hajatan, memanggilnya untuk menebar inspirasi kehidupan. “Ini bukan hanya untuk anak Smada. Ini untuk semua warga Makassar,” kata kepala SMA 2 Herman Hading saat membuka konser Iwan. “Semoga betul-betul menginspirasi.”

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat setengah jam. Iwan Fals yang ditunggu-ditunggu penggemarnya muncul dari balik panggung. Senyum dia sambil membenarkan kacamata. Gitar akustik melengkapi setelannya yang sederhana; Kaos polo coklat dan jin biru. Gitar dipetiknya. Iwan membuka penampilannya di panggung dengan lagu Buku Ini Aku Pinjam. “Ini lagu di masa saya masih SMP-SMA. Untuk kalian yang masih muda-muda,” teriaknya.

Daya tarik dan kharisma Iwan dan lagunya bak magnet bagi penonton. Mereka bagai terhipnotis. Semua lagu yang rata-rata rilis 20 tahun lalu mereka mampu nyanyikan bersama, sambung-menyambung. “Ternyata rata-rata hafal liriknya. Kalian lahir tahun berapa ?,” Iwan tanya sambil senyum.

Iwan Fals menjaga keakraban dengan penggemarnya yang memenuhi pelataran panggung. Ia berinteraksi, menyapa penonton. “Saya kagum dengan Makassar dan Sulawesi Selatan. Dari sini banyak lahir pejuang wanita,” kata dia. Sabtu, 21 April lalu, saat ia konser, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. “Saya baru tahu siang tadi. Ternyata di Sulsel ada pejuang Emmy Saelan yang seorang perempuan. Ia tidak kalah sama Kartini. Semoga perempuan-perempuan kita mengikutinya.”

Suasana penuh romantisme mendominasi di awal konser Iwan Fals. Beberapa tembang cinta ia bawakan berturut-turut, dengan tetap diselipi pesan-pesan serius di tiap jeda. “Negara ini negara persamaan. Bukan negara penindasan,” katanya sebelum menyanyi. “Untuk yang baru ujian dan menanti kekasih,” ucapnya membawakan lagu Ku Menanti Seorang Kekasih. Disusul Mata Indah Bola Pingpong, Mabuk Cinta, Ijinkan Aku Menyayangimu, dan Yang Terlupakan.

Suasana memanas. Totok Tewel, gitaris yang setia mendampingi Iwan Fals di tiap panggung ke panggung, mengganti gitarnya. Dari akustik ke elektrik. Tepukan dan teriakan tak cukup. Sebagian besar penonton berlompat, menyambut lagu Pesawat Tempur. “Penguasa, berikan aku uang,” sorak mereka mengikuti idola.

Iwan membuat penonton lupa diri. Lagu yang paling ditunggu-tunggu akhirnya melantun juga. Teriakan Bento, Bento, Bento, membawa Iwan makin bergairah. “Kalau di negeri ini masih banyak Bento, jangan takut, masih ada Bongkar !” teriaknya keras. Lagu Bongkar, yang pernah dipopulerkan bersama grup band Kantata Taqwa, berkesan bagi Iwan. Lagu itu masuk salah satu dalam daftar 150 lagu terbaik sepanjang masa versi majalah musik Rolling Stone.

Pesan sosial kemudian lebih banyak mengisi lagu Iwan selanjutnya. Saat menyanyikan lagu Frustasi, contohnya, ia berpesan pada penonton agar menjauhi narkoba. “Saya heran dan cukup prihatin. Saya baca koran, ternyata makin banyak yang jatuh dalam narkoba,” katanya. Juga saat menyanyikan lagu Ujung Aspal Pondok Gede, ia berpesan bagi pemuda sebagai generasi penerus, agar memikirkan baik-baik kebijakan jika nanti jadi pemimpin. “Lagu ini tentang sebuah kawasan dekat Jakarta. Rumah saya di sana digusur. Mudah-mudahan pengaturan kota bisa lebih mementingkan rakyat. Tidak merugikan.”

FOTO: AANG

Iwan mengaku kagum pada Makassar, tempatnya konser. Terutama pada prinsip hidup Siri’na Pacce. “Orang Makassar hebat-hebat. Buktinya ada yang bisa berlayar pakai phinisi sampai ke Madagaskar sana,” tutur dia. Mestinya banyak pemimpin yang bisa lahir dari sini. Ia lalu melanjutkan parade tembangnya dengan menyanyikan lagu Manusia Setengah Dewa. “Saya memimpikan Indonesia punya pemimpin yang seperti Dewa. Tak usah seutuhnya. Cukup setengah saja,” kata dia. Gitar akustik kembali ia mainkan, sambil sesekali meniup harmonika.

“Orang Makassar hebat-hebat. Saya rasa itu tidak lepas dari peran perempuan-perempuannya,” kata Iwan. Ia memainkan lagu Ibu, spesial untuk penonton perempuan yang berbaur di deretan penonton. Lalu, dengan iringan ukulele Totok Tewel, ia membawakan lagu Oemar Bakrie.”Kita juga tak bisa lepas dari peran guru. Terima kasih ibu dan bapak guru.”

Tak terasa dua jam setengah sudah berlalu. Jarum jam sedikit lagi menghampiri pukul dua belas, pergantian hari. Iwan belum puas. Ia menawarkan hal beda bagi penggemarnya di Makassar, pada lagu terakhir. Lagu kemesraan, yang selalu ia bawakan di akhir penampilannya, ia nyanyikan dalam bahasa Makassar. Tak ayal, penonton dibuatnya tak kuasa menahan senyum.

Terpatah-patah, Iwan mencoba melafalkan bait Kemesraan versi Makassar. “Kemesraan anne, teako tettere’ la’busu’. Atingku sannang .. kalengku sannang ri kalennu,” bunyi baitnya. “Liriknya udah betul, tidak ?,” katanya, saat sempat jeda. Ia lalu menyambung sebagian akhir lagunya dengan versi asli berbahasa Indonesia. Penonton memanfaatkan momen itu untuk menyanyi bersama. “Terima kasih, Makassar. Tetap jaga prinsip siri’na pacce,” katanya mengakhiri penampilan di Makassar.

AAN PRANATA

 (Tulisan ini untuk Koran Tempo Makassar)

@1 month ago
ruineshumaines:

Merry Karnowsky
@3 weeks ago with 466 notes

“Bandung Heritage”


Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota , berdiri bangunan bangunan tua yang saya yakini dulu sangat megah pada masanya. Jejak nya masih bisa kita nikmati ditengah-tengah pembangunan yang membabi buta

copyrights : Kurniawan Gunadi

Nikon FM2 - Kodak Colorplus ASA 200

See more photo works on Flickr

Jempol

(Source: kurniawangunadi)

@3 weeks ago with 19 notes
sidratulmuntaha:

[200412] Mosque of Al-Rifa’ie, Cairo, Egypt. 
according to the ‘pakcik guard’ , this is where King Farouq, who killed Hassan Al Banna, and his son King Fuad II were interred.

sidratulmuntaha:

[200412] Mosque of Al-Rifa’ie, Cairo, Egypt. 

according to the ‘pakcik guard’ , this is where King Farouq, who killed Hassan Al Banna, and his son King Fuad II were interred.

@1 month ago with 39 notes

"Alquran diturunkan bukan untuk mahar, tapi untuk diamalkan."

@1 month ago with 37 notes
sidratulmuntaha:

aseaofquotes:

Jean-Paul Sartre, Nausea

but my place is nowhere. 

My place is nowhere

sidratulmuntaha:

aseaofquotes:

Jean-Paul Sartre, Nausea

but my place is nowhere

My place is nowhere

@1 month ago with 3030 notes